Breaking News
recent

Sejarah Sinkretisme Dalam Kebudayaan Jawa


Redaksi Digital (13/7/2016). Melihat latar belakang kehidupan ki ageng sela. Tampak bahwa masa kehidupan ki ageng sela berada dalam lingkup naiknya kejayaan islam di  jawa. Namun, jika memperhatikan ulah krida dalam berkesenian maupun dalam lingkup kesehariannya , Ki ageng sela tampaknya masih memperhatikan kedekatannya dengan kebudayaan jawa.

Hal ini dapat disimak dalam pepali-pepali yang disampaikannya yang menampakkan sinkretisme antara kebudayaan jawa dan Islam.

Budaya jawa asli memang telah berkembang semenjak masa pra sejarah. sebagai halnya suku-suku sederhana lainnya budaya Jawa bertumpu pada religi animisme dan dinamisme.

Dasar pikiran dalam religi animisme dan dinamisme bahwa dunia ini juga didiami oleh roh-roh halus termasuk roh nenek moyang dan juga kekuatan-kekuatan gaib.

Hubungan dengan roh dan daya gaib ini dilakukan dengan upacara-upacara ritual dengan sesaji, pembacaan mantra-mantra dan melalui perantaraan dukun atau orangtua yang telah berpengalaman.

Ketika hindu masuk, budaya jawa mengadakan sinkretisasi dengannya. Hal tersebut dapat dirunut dari bukti-bukti  tertua mengenai adanya negara-negara hindu jawa berupa prasasti dari batu yang ditemukan di pantai utara jawa barat, kurang lebih 60 kilometer sebelah timur kota jakarta di lembah sungai cisadane.

Walaupun tidak ada tanggal pada prasasti tersebut, tetapi dilihat dari bentuk dan gaya huruf dapat dilihat bahwa prasasti tersebut berasal dari abad ke-4 Masehi.

Di jawa, pengaruh hindu diterima secara kreatif karena terdapat suatu pemahaman yang sejajar tentang religi animisme-dinamisme, yakni bahwa manusia bisa menjalin hubungan langsung dengan dewa-dewa dan roh-roh halus.

Bahkan dengan laku tapa manusia bisa jadi sakti dan mengalami bersatu dengan dewa. Jadi pengaruh hinduisme justru menyuburkan dan meningkatkan laku keprihatinan para dukun dalam mempengaruhi roh-roh dan daya gaib.

Pengaruh hindu mulai mengalami penurunan ketika majapahit runtuh. Islam yang mulai menyebar ke Indonesia semenjak abad ke-13 M, ternyata pada mulanya sulit menembus dan diterima di lingkungan tradisi besar budaya hindu dan Kejawen, yang berpusat di kerajaan istana pedalaman.

Menurut sejarah, Islam yang datang dan menyebar ke Indonesia memang Islam yang telah dipengaruhi oleh ajaran mistik. Yakni islam Sufo bukan Islam Sunni yang syar'i.

Memang semenjak abad ke-13, yaitu semenjak surutnya kebesaran kota baghdad sebagai pusat kebudayaan Islam Sunni maka bermulalah dominasi islam sufi.

Karena yang menyebar ke indonesia adalah islam sufi, maka agama islam yang ajarannya telah dimistikkan ini tentu punya dasar pikiran yang sejajar dengan dengan religiasli animisme dan dinamisme. Bahkan dengan ajaran hindu-kejawen yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan jawa pedalaman.

Sinkretisasi antara budaya jawa dengan berbagai unsur tersebut kemudian memperkaya khazanah kebudayaan jawa dalam berbagai aspek. Meskipun kerajaan demak muncul menggantikan hegemoni majapahit, Kerajaan demak merasa penting untuk memindahkan pusaka-pusaka keraton majapahit sebagai tanda pelanjut tradisi dan kekuasaan jawa.

Hal tersebut berarti bahwa para penguasa islam di demak mengikuti adanya suatu sosok yang kuat dari sintesis budaya Jawa-Hindu yang haruis dipertimbangkan apabila ingin untuk selanjutnya memimpin dialog budaya baru tersebut.


arman rozika

arman rozika

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.