Breaking News
recent

Mengapa Saya Harus Bertobat, Keutamaan Taubat

Redaksi Digital (26/6/2016). Islam merupakan agama penuh Rahmat, karunia serta hidayah yang kita terima adalah Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman dalam hidup. Al-Qur’an dan Hadist merupakan peninggalan Rasulullah yang akan terus bersama kita hingga hari kiamat.

Banyak kandungan dan petunjuk dalam Al-quran yang tidak dijelaskan dalam hadist, begitu pula sebaliknya. Al-quran adalah hidayah. Sarana manusia untuk selalu bertaubat kepada Allah SWT, karena setiap orang tidak akan pernah luput dari khilaf dan salah.

Akan tetapi ampunan Allah kepada para hamba-hambanya adalah luas dan selalu apa. Setiap dosa yang dilakukan akan diampuni apabila kita senantiasa bertaubat kepada Allah SWT.

Dalam beberapa hadist diriwayatkan bahwasanya Rasulullah selalu bertaubat seratus kali dalam sehari, padahal beliau adalah orang yang dijanjikan surga baginya kelak di akhirat.

Lalu bagaimana dengan kita, yang tidak dijanjikan apapun tetapi kita tidak pernah bertaubat kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan memaparkan hadist-hadist yang berkenaan dengan keutamaan taubat. Dari cara bertaubat dan macam-macam taubat orang yang berdusta dan penuh dosa.

Tujuan tulisan ini yaitu

1.    mengetahui hadist-hadist yang berkenaan dengan taubat
2.    mengetahui makna dan penjelasan mengenai hadist yang berkaitan dengan taubat
3.    mengetahui adab-adab dalam bertaubat
4.    mengetahui macam-macam taubat
5.    mengetahui pelaku-pelaku taubat




A.    LUASNYA MAGHFIRAH (AMPUNAN) ALLAH AZZA WA JALLA

عَنْ أنَسٍ رضي الله عنه قَال : سَمِعْتُ رسُوْلَ الله صَل الله علَيه و سلم يَقُلُ : قَلَ الله تَباَرَكَ وَتَعاَلَى يَا ابْن اَدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي ورَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَا نَ فِيْكَ وَلَا أُبَا لِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْبَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَناَنَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا اِبْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أتَيْتَنيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَاتُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُراَبِهَا مَغْفِرَةً.

Dari Annas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku mengampuni segala dosamu yang telah lalu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosamu sampai setinggi langit lalu engkau minta ampun kepada-Ku niscaya Kuampuni. Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan seluas bumi lalu engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku datang padamu dengan ampunan seluas bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata, Hadist ini hasab shahih.”)

Hadis ini diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Bab: Ad-Da’awat, Bab: Diampuninya DosaSeberapa pun Besarnya.

Pemahaman Hadits dan Pelajaran yang Dikandungnya


Hadits ini adalah hadits yang paling memberikan harapan dalam sunnah. Karena didalamnya memberikan penjelasan tentang betapa luasnya ampunan Allah SWT, agar orang-orang yang berdosa tidak berputus asa sebanyak apapun dosanya.

Tetapi tidak layak baginya untuk tertipu dengannya sehingga dia tenggelam dalam perbuatan maksiat. Karena bisa jadi dia dikuasai dosa sehingga terhalang baginya untuk mendapat ampunan dari Allah.

Sebab-sebab Mendapat Ampunan


Terdapat beberapa cara dan sebab yang dapat menghapuskan dosa manusia, diantaranya:

Doa disertai Optimisme Terkabulnya Doa

Berdoa itu di perintahkan dan dijanjikan untuk dikabulkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ اُدْعُوْنِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Dari An-Nu’man bin Basyir Radhiallahu Anhu, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “sesungguhnya doa adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca ayat ini. (HR. At-Tirmidzi dan yang lainnya). Tidaklah Allah mempersilahkan dan mengizinkan seorang hamba untuk berdoa dan merendahkan diri kepada-Nya kecuali Dia akan menerima dan mengabul-kannya. Ath-Thabrani meriwayatkan hadis secara marfu’, “Barang siapa yang memberi kesempatan untuk berdoa, niscaya dia akan memberi kesempatan untuk mengebulkannya, karena Allah Ta’ala berfiraman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akau kabulkan.’”

Dalam  hadits yang lain; “Tidaklah bagi Allah untuk membukakan pintu berdoa kepada hamba-Nya, lalu Dia menutup pintu pengabulan.”


Syarat Dikabulkannya Doa, Serta Penghalang dan Adab-Adabnya


Doa adalah sebab yang menuntut adanya pengabulan ketika terpenuhi semua syarat dan hilangnya semua penghalang. Adakalanya pengabulan doa ditangguhkan karena ketiadaan sebagian syarat dan adab-adabnya atau adanya sebagian penghalang.

1.    Hadirnya hati yang penuh harapan

Syarat terbesar dari dikabulkannya doa adalah hadirnya hati disertai optimisme bahwa Allah akan mengabulkannya.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallah Anhu, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Berdoalah kepada Allah dan kamu yakin akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai dan lupa.”

Dalam Al-Musnad disebutkan dari Abdillah bin Umar Radhiyallah Anhuma, dari Nabi SAW, dia berkata, “Sesungguhnya hati ini adalah wadah, maka sebagiannya dapat menampung lebih banyak daripada yang lainnya. Jika kamu meminta kepada Allah, maka mintalah dan kamu yakin akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari seorang hamba, yang disampaikan dengan hati yang lalai.”

Di antara tanda optimis adalah baiknya ketaatan kepada Allah. Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah.” (Al-Baqarah: 218)

2.    Berketeguhan hati dalam meminta dan berdoa

Yaitu, seorang hamba berdoa dengan jujur, kokoh dan pasti, serta tidak ada keragu-raguan dalam hati dan ucapannya. Rasulullah melarang orang yang berdoa atau yang meminta ampunan untuk mengatakan dalam doa dan istighfarnya: Ya Allah ampunilah aku jika Engkau berkehendak, Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau berkehendak, tetapi hendaklah dia membulatkan tekad dalam berdoa, karena Allah berbuat yang dikehendaki dan tidak ada yang memaksanya. (HR. Muslim)

Dalam Ash-Shahih dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Jika Engkau berkehendak, maka ampunilah aku’, tetapi hendaklah dia bersungguh-sungguh dan membesarkan keinginan, karena Allah tidak memandang besar terhadap sesuatau yang diberikannya.” (At-Tirmidzi)

3.    Terus menerus berdoa

Allah mencintai hamban-Nya yang menunjukkan penghambaan dan kebutuhannya kepada Allah hingga kebutuhannya dipenuhi. Selama seorang hamba terus bedoa, sangat mengharapkan untuk dikabulkan, tak pernah putus harapan, maka semakin terbuka eluang untuk dikabulkan. Barangsiapa yang mengetuk pintu maka akan dibukakan pintu baginya.

Allah SWT berfirman, Q.S Al-A’raf : 56

dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan hadits marfu’ dari Anas, “Janganlah kamu merasa lemah (putus asa) dari berdosa, karena seseorang tidak akan binasa dengan berdoa.” Beliau juga bersabda, “Siapa yang tidak meminta kepada Allah, Dia murka kepadanya.” (HR. Ibnu Majah).

Disebutkan dalam sebuah atsar: sesungguhnya seorang hamba jika dia berdoa, maka Allah cinta kepadanya seraya berkata, “Wahai Jibril, janganlah kamu tergesa-gesa untuk memenuhi kebutuhan hamba-Ku, karena aku menyukai untuk mendengar suaranya.’”

4.    Minta disegerakan dan meninggalkan doa

Rasulullah SAW melarang hamba untuk meminta disegerakan dalam pengambilan doa, lalu meninggalkannya karena pengabulannya dilambatkan. Demikian ini merupakan penghalang terkabulnya doa, sehingga seorang hamba tidak merasa putus asa dari dikabulkannya doa walaupun lama masa penantiannya, karena Allah mencintai orang yang berdoa terus-menerus.

Rasulillah bersabda, “Doa kamu sekalian akan dikabulkan selama kalian tidak meminta disegerakan. Seraya berkata dalam doanya, “Saya telah berdoa kepada Tuhanku, namun Dia tidak mengabulkannya.” (Muttafaq Alaih).

5.    Rezeki yang halal

Sebab terpenting dikabulkannya doa adalah halalnya rezeki yang dimiliki manusia, yaitu didapatkan dengan cara yang disyariatkan. Diantara penghalang dikabulkannya doa adalah manakala seseorang tidak mempedulikan halal dan haram dalam memperoleh rezekinya.

Ditetapkan dalam hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang laki-laki mengulurkan kedua tangannya ke langit, seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku,’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana doanya bisa dikabulkan.” (HR. Muslin dan yang lainnya). Rasulullah bersabda, “Wahai Sa’ad, perbaikilah makanmu, maka kamu akan menjadi orang yang dikabulkan doanya.” (Ath-Thabrani dalam Ash-Shahir).

6.    Minta ampunan

Permintaan yang sangat penting untuk diminta oleh seorang hamba dari Tuhannya adalah meminta ampunan atas dosa-dosanya dan kelanjutan darinya, yaitu selamat dari api neraka dan masuk surga. Rasulullah SAW bersabda, “Sekitarnya Nudandin.” (Abu Dawud dan yang lainnya) Nudandin artinya sekitar permintaan surga dan selamat dari api neraka.

Abu Muslim Al-Khaulani berkata, “Tidaklah saya ditawari untuk berdoa, lalu disebutkan tentamg nerala kecuali saya palingkan doa itu untuk berlindung darinya.

7.    Menggantikan permintaan hamba dengan sesuatu yang mengandung kebaikan

Merupakan rahmat Allah kepada hamba-Nya, bahwa adakalanya seorang hamba meminta dipenuhi salah satu kebutuhan dari kebutuhan duniawi, maka adakalanya Allah mengabulkannya atau menggantikannya dengan yang lebih baik, diantaranya dengan menghindarkan keburukan darinya, atau menyimpannya untuk di akhirat, atau diampuni dosanya; “Tidaklah Seseorang berdoa kepada Allah dengan suatu doa kecuali Allah akan mendatangkan apa yang dia minta, atau ditahan darinya keburukan yang semisal, selama dia tidak meminta perbuatan dosa atau meminta diputuskan tali silaturahmi.”

Dalam AlMusnad dan Sahih Hakim, dari Abu Sai’d r.a dari Nabi SAW, beliau bersabda “ Tidak ada seorang muslim yang berdoa dengan suatu doa, yang didalamnya tidak ada unsur perbuatan dosa atau pemutusan silaturahmi kecuali akan Allah memberikan kepadanya tiga pilihan : 1; segera mengabulkan doanya, 2; menyimpannya untuknya di akhirat, dan 3; melepaskannya dari kesulitan atau yang semisalnya.”

Adab-Adab Berdoa 

1.    Memilih waktu yang utama
2.    Berwudhu dan melakukan sholat terlebih dahulu
3.    Taubat
4.    Menghadap kiblat
5.    Memulai dengan memuji dan menyanjung Allah serta bersholawat kepada Nabi SAW
6.    Mengatakan ditengah-ditengah dan di akhir doa lafadz amiin
7.    Tidak mengkhususkan untuk dirinya tetapi ditujukan untuk seluruh kaum muslimin
8.    Berbaik sangka dan optimis
9.    Mengakui dosa
10.   Merendahkan suara

Beristigfar Sebesar Apapun Dosa

Sesungguhnya dosa-dosa seorang hamba bagaimanapun besarnya, maka ampunan dan pemaafan dari Allah lebih luas dan lebih agung, dan doa itu kecil dibanding dengan ampunan dan magfiroh Allah. Al Hakim meriwayatkan dari Jabir ; seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan dia berkata, “ Aduhai dosa.”

Dia ucapkan dua atau tiga kali. “ Nabi bersabda kepadanya, katakanlah. “ Ya Allah ampunanMu lebih luas daripada dosaku, dan RahmatMu lebih saya harapkan lebih dari amalku.” Maka diapun mengatakannya. Kemudian Nabi bekata kepadanya ; “ Ulangi Lagi.” Maka dia mengulanginya. Kemudia nabi berkata kepadanya “ Ulangi Lagi :, dia pun mengulanginya. “ Berdirilah, Allah telah mengampunimu,” kata nabi kepadanya,

Istigfar Dalam Al-Quran

Istigfar Dan Terus-Menerus Melakukan Dosa

Dikatakan bahwa nash-nash tentang istigfar yang mutlak semua dibatasi dengan apa yang disebutkan dalam suart Ali imran yaitu tidak terus menerus melakukan dosa, karena Allah menjanjikan ampunan bagi orang yang beristigfar dari dosa dan tidak terus menerus dalam perbuatannya.

Abu Dawud dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadis Abu Bakar r. A, dari Nabi SAW, beliau berkata “ Tidak diangap terus menerus orang yang melakukan dosa orang yang beristigfar, walaupun ia mengulanginya dalam satu hari sebanyak tujuh puluh kali”.

Adapun istigfar dengan ucapan sementara hatinya tetap berniat untuk melakukan dosa, maka ia adalah semata-mata doa. Jika berkehendak, Allah akan mengampuninya dan jika berkehendak, Dia akan menolaknya. Dan diharapkan doanya dikabulkan, terutama jika keluar dari hati yang teriris karena dosa, atau doanya bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa, seperti waktu sahur, setelah adzan, setelah shalat fardhu, dan sebagainya.

Adakalanya niat untuk tetap melakukan dosa menghalangi dikabulkannya doa.

Taubat Para Pendusta

Barangsiap yang berkata, “ Saya memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya,” namun hatinya tetap bertekad untuk melakukan dosa, maka dia berdusta dalam ucapannya, dan dia berdosa karena tidak bertaubat.

Dia tidak boleh menyatakan diri telah bertaubat karena sesungguhnya dia tidak bertaubat. Yang serupa dengan ini adalah perkataan: “ Ya Allah sesunguhnya saya meminta ampun kepada-Mu, maka terimalah taubat saya.

Perumpamaan dari ini, adalah orang yang takut hukuman yang dahsyat, namun mengerjakan perbuatan yang dapat mendatangkannya; sebagaiamana orang yang mengharapkan panen namun dia tidak menanam, atau mengharapkan anak sedang dia tidak menikah.

B.    MERAIH AMPUNAN ALLAH AZZA WA JALLA

عَن اَنَسْ بن مَاِلك رضي الله عنه انّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عن ربّ العِزَّةِ سُبْحَانَهُ وتعالى : اَنَا اَكْرَمُ وَاَعْظمُ عَفْوًا مِنْ اَنْ اَسْتُرَ على مسلمٍ فى الُّدنْيَا ثُمَّ اَفْضَحُهُ بَعْدَ اَنْ سَتَرْتُهُ وَلَا اَزَالُ اَغْفِرُ لِعَبْدِى مَا اسْتَغْفَرَنِى

Anas ibn Malik r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda dengan mengabarkan firman Allah Swt., “ Aku lebih banyak memaafkan daripada menutup aib seorang muslim di dunia, dan kemudian Aku menghinakannya setelah menutup aibnya. Aku tidak henti-hentinya akan selalu mengampuni dosa-dosa hamba-Ku selama mereka beristigfar kepada-Ku”. ( HR Al-‘Uqaili )

Penjelasan Hadis

Diantara manusia ada yang mengenal Allah dengan sifat kedermawanan-Nya, keutamaan-Nya, dan kebaikan-Nya. Diantara mereka juga ada yang mengenal-Nya dengan ampunan-Nya, kelembutan-Nya, kemuliaan-Nya, dan kekuasaan-Nya.

Ampunan yang dimiliki Allah adalah ampunan yang menyeluruh yang mencakup segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya. Apalagi jika mereka melakukan perbuatan yang bisa mendatangkan ampunan-Nya, seperti istigfar, tobat, keimanan dan amal shaleh. Sesungguhnya Allah Swt akan menerima tobat hambanya dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.

Dialah Allah yang Maha pemaaf, mencintai permaafan, dan mencintai hambaNya jika mereka melakukan hal-hal yang mendatangkan ampunan, seperti berusaha untuk meraih keridhaan-Nya.

Diantara kesempurnaan ampunan-Nya adalah betapapun seorang hamba melakukan perbuatan yang melebihi batas, tetapi kemudian dia bertaubat dan kembali kepada jalan kebaikannya, niscaya Dia akan mengampuni seluruh dosanya, kecil maupun besar. Sesungguhnya islam menghapus ajaran sebelumnya, sedangkan tobat itu menghapus dosa-dosa sebelumnya.  Allah Swt berfirman, didalam Q.S Az-Zumar : 53
 
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[1314] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Q.S Tha’ Ha’ : 82

dan Sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.

Dengan demikian, makna dari al-‘afw adalah menghilangkan pengaruh dosa-dosa secara keseluruhan. Allah menghapus dosa-dosa hamba-Nya dari catatan malaikat yang menuliskan amal, menghiraukannya pada hari kiamat, dan membersihkan dari hati mereka.

Semua itu dilakukan agar mereka tidak merasa malu ketika menyebutkannya dan untuk mengganti tempat kejelekan dengan kebaikan. Disamping itu, al ‘afw ( maaf ) yang diberikan Allah lebih utama daripada magfirah. Sebab Al-Ghufran ( ampunan ) mengisyaratkan penutupan dosa, sedangkan al-‘afw ( maaf ) mengisyaratkan penghapusan. Karenanya penghapusan itu lebih utama daripada penutupan.

Sessungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memberikan sebab-sebab untuk meraih ampunan-Nya dengan tobat, istigfar, keimanan, amal shaleh, berbuat baik kepada hamba Allah, memaafkan kesalahan mereka, mencari keutamaan Allah, berbaik sangka kepada Allah, dan perbuatan lainnya yang Allah jadikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada ampunan-Nya.

Selain itu juga dengan doa sempurna dan menyeluruh yang mengisyaratkan kekuarangan hamba dan pengakuan dosa.

Abu darda’ r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “ Barangsiapa yang berwudhu, lalu dia memperbaiki wudhunya, kemudian shalat dua rakaat atau empat rakaat. Dalam shalat itu dia menyempurnakan zikir dan kekhusyukan. Lalu, dia meminta ampun kepada Allah, maka pasti Allah akan mengampuninya.” ( HR Ahmad ).

Demikianlah kita mengenal bahwa istigfar itu memiliki hikmah yang banyak,

Setiap orang selalu melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tidak ada manusia yang sempurna. Karenanya Taubat merupakan satu-satunya jalan untuk terus memohon ampun kepada Allah Swt. Allah Maha Pemurah Lagi Maha Pemaaf. Bahkan Rasulullah saja yang sudah dijanjikan untuknya Surga, tetap melakukan Taubat seratus kali sehari.

Tidak ada yang tahu pasti kapan dan sudahkah taubat seseorang diterima. Akan tetapi kita sebagai manusia sepatutnya untuk terus berusaha dan bertawakal kepada Allah Swt. Karena sesungguhnya Allah menyukai para hambanya yang senantiasa bertaubat.

Referensi:

Musthafa Dieb Al Bugha, Muhyidin Mistu, “Al-Wafi ( syarah hadist arba’in Imam An-Nawawi )”, Al-Kautsar, 2013, Jakarta.

Ahmad ‘Abduh ‘Iwadh, “Mutiara Hadis Qudsi ( Jalan menuju kemuliaan dan kesucian hati ) “, 2006, Mizan Media Utama, Bandung

arman rozika

arman rozika

2 comments:

Powered by Blogger.